Berita TerbaruSingle TerbaruVideo Klip

The Lantis Rilis Versi Baru Lagu Naif ‘(Jangan Terlalu) Posesif’

Musikku.id – Ada yang berubah dari lagu Naif yang satu ini.

Kalau biasanya “(Jangan Terlalu) Posesif” membawa pendengar kembali pada karakter khas Naif, kali ini lagu tersebut terdengar seperti mendapatkan tiket perjalanan menuju era 70-an.

Bukan karena The Lantis mengubahnya menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda. Justru sebaliknya, mereka berusaha mempertahankan akar lagu sambil memberikan perspektif baru melalui warna retro-pop yang lebih ringan, hangat, syahdu, dan groovy.

Baca juga: Masih Ingat Mawang? Dulu Viral karena Keunikannya, Kini Hadir Serius Lewat ‘Tanpa Suara’

Interpretasi tersebut hadir dalam rilisan terbaru The Lantis, yang membawakan kembali lagu ikonik milik Naif dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter musik mereka.

Menariknya, proyek ini tidak berhenti pada urusan musik.

Nuansa retro tersebut turut dibawa ke dalam video klip sehingga konsep yang ditawarkan terasa lebih utuh. Namun, ada alasan yang lebih personal di balik keputusan The Lantis menggarap lagu tersebut.

Mereka tidak sekadar ingin membuat ulang lagu lama.

“(Jangan Terlalu) Posesif” menjadi semacam surat cinta The Lantis kepada Naif.

Salah satu elemen paling mencolok dalam versi baru ini adalah pendekatan retro-pop.

Alih-alih membuat lagu terdengar modern secara berlebihan, The Lantis justru membawa atmosfer yang mengingatkan pada musik era 70-an.

Pendekatan tersebut terasa selaras dengan karakter The Lantis yang memang memiliki kedekatan musikal tertentu dengan Naif.

Namun, menurut Giri, pemain bas The Lantis, kemiripan tersebut justru membuat mereka harus menemukan cara untuk memberikan pembeda.

Baca juga: Dodhy Kangen Band Punya Proyek Baru! Setengah 12 Rilis MV ‘Energi’, Siapkan 5 Lagu

“The Lantis bisa dikatakan cukup mirip dengan Naif secara musik, jadi kalau nyebrang dari Naif otomatis nyebrang juga dari The Lantis-nya sendiri.”

Karena itu, The Lantis memilih membedakan interpretasinya melalui vibes dan emosi.

“Maka dari itu, mungkin kami lebih bedain dari segi vibes dan emosinya, kami bikin lebih ringan dan groovy.”

Pendekatan tersebut membuat versi baru ini tidak terasa seperti usaha untuk menjadi Naif.

The Lantis tetap menjadi dirinya sendiri.

Ada Lirik Baru di Bagian Pembuka

Salah satu detail menarik dalam versi “(Jangan Terlalu) Posesif” garapan The Lantis adalah tambahan pada bagian awal lagu.

Sebelum masuk ke bagian lagu yang sudah dikenal, pendengar akan menemukan satu bait lirik baru.

Lirik tambahan tersebut ditulis oleh produser Vega Antares dan berfungsi sebagai pintu masuk menuju lagu.

Keputusan ini terbilang menarik.

Sebab, alih-alih hanya mengubah aransemen, The Lantis juga memberikan elemen baru yang membuat versi mereka memiliki identitas tersendiri.

Dengan adanya bait pembuka tersebut, pendengar seperti diajak memasuki lagu melalui perspektif The Lantis sebelum akhirnya bertemu dengan bagian yang sudah familiar.

Ini menjadi salah satu cara sederhana tetapi efektif untuk memberikan jarak antara versi baru dan rekaman asli.

Lebih dari sekadar proyek musik, The Lantis menempatkan rilisan ini sebagai bentuk penghormatan kepada Naif.

Ada rasa apresiasi terhadap karya yang sudah memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan musik Indonesia.

Karena itu, interpretasi baru tersebut tidak diarahkan untuk menggantikan versi asli.

Sebaliknya, The Lantis mencoba memberikan kehidupan baru kepada lagu yang sudah dikenal banyak pendengar.

Ini menjadi menarik karena proses menghidupkan kembali lagu lama tidak selalu harus dilakukan dengan membuatnya terdengar jauh berbeda.

Kadang, perubahan atmosfer, pendekatan produksi, dan sudut pandang emosional sudah cukup untuk menghadirkan pengalaman baru.

Video Klip Ikut Membawa Atmosfer Retro

Konsep retro yang digunakan The Lantis juga tidak hanya berhenti di audio.

Baca juga: Kanye West Resmi Konser di GBK Jakarta 24 Oktober 2026, Tiket Dijual Mulai 29 Juli

Video klip “(Jangan Terlalu) Posesif” turut membawa atmosfer yang sejalan dengan pendekatan musiknya.

Dengan begitu, rilisan ini memiliki identitas visual dan audio yang saling mendukung.

Strategi tersebut terasa penting di era ketika sebuah lagu tidak lagi hanya dikonsumsi melalui audio.

Video musik, potongan pendek untuk media sosial, hingga visual sebuah rilisan ikut menentukan bagaimana pendengar mengenali karakter karya.

The Lantis tampaknya memahami hal tersebut dengan membawa satu konsep yang konsisten dari musik hingga visual.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button